Satu Episode Dokter N

Ini cerita dari sahabat saya yang sedang menjalani kepaniteraan klinik di departemen Kardiologi, sementara saya belum bertemu dengan dokter N, alangkah baiknya kebaikannya saya hayati dan saya bagi. Sungguh saat saya membaca postingan ini saya terharu, dan meyakini alias OPTIMIS to the MAX bahwa jenis seperti ini masih ADA!

Nah, karena ada sedikit waktu untuk bengong, ada baiknya saya bercerita, sedikit saja. Selain karena dorongan dari isni_drizzle yang “memaksa” saya berbagi hikmah, saya juga berpikir, bahwa banyak sekali kisah kejahatan yang terpublikasi dengan manisnya di koran pagi, tiap hari, 365 hari setahun. Begitu banyak negativisme di sekitar kita, maka apa salahnya membagi kisah yang tidak galau untuk memancarkan energi positif? Maka kali ini, saya ingin bercerita lagi, tentang kebaikan.

***

Dokter N, sebut saja begitu. Saya tidak akan menulis dengan “sebut saja Bunga”, sebab dokter ini laki-laki. Menyebutkan nama lengkap bisa berarti penghinaan, sebab tidak semua orang senang namanya disebut secara lengkap dalam suatu publikasi maya. Maka dalam kisah ini kita sebut dia, dokter N.

Dokter N adalah seorang spesialis jantung pembuluh darah, dari sedikit yang ada di Banda Aceh ini. Begitu sedikitnya dokter spesialis ini di Banda Aceh, dan begitu membludaknya pasien darah tinggi, serangan jantung sebagai akibat dari budaya merokok dan minum kopi yang dibangga-banggakan di Aceh ini, sehingga wajarlah para dokter ini sangat sibuk. Dalam sehari kami melihat pasien-pasien masuk ke IGD rumah sakit umum terbesar di Aceh dengan serangan jantung, sebagian hidup, sebagian merana, sebagai dipanggil Illahi, dan kami hanya terpana menyaksikan semua itu terjadi. Maka bayangkan betapa sibuknya dokter spesialis jantung di kota kecil ini, setiap hari menghadapi tumpukan pasien yang berobat. Dengan tabiat khas orang sakit keras, banyak dari pasien jantung agak angkuh dan kadang menyebalkan, yang mungkin mekanisme ego karena keputusasaan akan penyakit, seharusnya membuat dokter manapun bisa ikut meledak marah.

Namun lihatlah! Justru di tempat yang riuh rendah dan sibuk ini kami bertemu dokter N, yang selalu saja tersenyum riang, melambaikan tangan, dengan mata berbinar-binar.

Awalnya saya takjub, melihat ada seorang dokter spesialis yang begitu periang. Setelah itu saya menyadari bahwa pasien juga takjub. Bagaimana tidak? Tiap pagi dokter N akan mengunjungi pasiennya–dengan kami, para dokter muda yang imut-imut tupai mengekor di belakangnya–dengan tampang ceria sejuta watt dan senyum lebar di wajahnya, “Assalamu’alaikum Paaak!”
Pasien: *wajah terkejut mendapat serangan fajar* Wa’alaikum salam…
Dokter B: *dengan bahasa Aceh* gimana kabarnya pak hari ini? Udah enakan?
Pasien: e… enak dok (agak ketakutan)
Dokter N: enak hari ini atau kemarin? *berjalan mendekati pasien*
Pasien: Enak hari ini Dok *beneran gak Pak?
Dokter N: betol?
Pasien: Betol dok
Dokter N: betol gak?
Pasien: betooool
dan seterusnya, sampai pasien itu kehilangan ketakjuban dan ketakutannya, dan jadi pingin cepat lari pulang. Hehehe…
Selanjutnya, dokter N akan menghabiskan waktu lamaaaaaaaaaaaaaa sekali untuk berbicara dengan pasiennya. Dia akan bertanya panjang lebar pada pasiennya, menjelaskan tentang penyakit pada pasien dan pada kami, menjelaskan prosedur medis pada pasien… amazingnya, diantara semua itu, dokter N selalu memberikan nasihat-nasihat kebaikan, hikmah bersabar waktu sakit, dan mengingatkan untuk shalat. Setelahnya, dokter N biasa akan mengingatkan kami untuk mengingatkan pasien agar shalat.

Dokter N: Jadi, adek-adek ingat ya, penting sekali mengingatkan pasien untuk shalat. Kalian tahu kenapa? Pasien jantung itu, pilihannya antara 2 saja, jika tidak sembuh dengan kecatatan, maka dia akan meninggal. Maka tentu saja penting bagi seseorang yang terkena sakit jantung untuk mempersiapkan diri dengan bekal di akhirat.

Kurang lebih seperti ini. Melelehlah kami semua, dan pasien akan terheran-heran, karena sambil mengecek obat mereka, kami akan merengek, “Pak, udah shalat? Shalat ya Pak? Shalat dong Pak? Bapak mau mati dalam keadaan gak shalat?”

Kata terakhir itu bisa buat kami dilempar sandal.

Nah, lalu setelah selesai mengunjungi semua pasiennya, dokter N akan berlalu dengan terburu-buru dan sambil sempat menyalami dan merangkul teman kami yang laki-laki dan mengucapkan salam. Bahkan beliau melambai pada semua cleaning service!

Luar biasakah ini?
Ah, mungkin bagi kalian yang tidak pernah mengintip realita menyedihkan di rumah sakit, dalam institusi kesehatan, akan menganggapnya hal yang biasa.

Tapi selanjutnya dengarlah apa yang dikatakan oleh pasien dokter N saat saya mengunjunginya untuk menanyakan apa ia sudah minum obat (dan sudah shalat, tentunya),
“Dek, yang tadi pagi itu, yang berjanggut… dokter ya?”
*hampir syok kardiogenik, pingin bilang, “Pak? Bapak tidak mengenal dokter spesialis jantung yang terkenal itu? Maaf, Bapak dari planet mana?” Tapi saya menggantinya dengan kalimat lain,
Saya: Ya Pak, beliau adalah dokter spesialis jantung yang menangani Bapak selama di rumah sakit ini.
Si Pasien: *tercenung sejenak* Wah, maaf Dek, saya tidak menyangka dia dokter spesialis, soalnya orangnya ramah dan banyak omong. Biasanya kan dokter spesialis ngomongnya sedikit-sedikit, habis itu langsung pergi. Dia tidak. Praktek dimana dokter itu, Dek?
Saya: Wah, kurang tahu Pak. Nanti Bapak tanyakan saja sendiri, Bapak boleh tanya apa saja dengan Beliau. Insya Allah dijawab, Pak.
Si Pasien: Oowh… gitu ya Nak. Alhamdulillah ada dokter spesialis yang seperti itu ya. Tadi saya takut tanya, karena belum kenal.
Saya: Wah, jangan Pak, beliau bahkan boleh saja dihubungi langsung, kalau Bapak mau (sambil bertanya-tanya apa saya akan digaplok jika memberikan nomor hp beliau ke pasien. Hehehe)… Eh, Bapak udah shalat dzuhur belum?
Si Pasien: Eh, belum Nak. Bentar lagi *si Bapak nyengir kuda nil, salah tingkah.

Dokter N juga sangat bertanggung jawab. Jika saat kami jaga malam dan pasiennya mendadak gawat, apa karena serangan jantung, sesak nafas berat, atau apapun itu, terbanglah dokter N ke rumah sakit, jam berapapun itu. Lalu dia akan berjuang untuk menyelamatkan pasien ini, dibantu dengan kami yang culun-culun dan bisanya panik saja. Kawan, kuberitahu engkau bahwa sedikit sekali dokter spesialis yang mau datang melihat pasiennya yang sedang sesak nafas hebat dan menggeliat kesakitan hebat jam 2 malam di saat cuaca sangat dingin. Tapi dokter N selalu dengan heroiknya datang dan memberikan penangananan sampai pasiennya stabil atau dipanggil Illahi.

Demikianlah Sobat.

Ketakjuban kami kepada dokter N membuat kami termotivasi untuk belajar lebih giat, meski tidak nempel-nempel juga di kepala, kami tetap giat mengunyah buku dan guideline kardiologi itu setiap hari, selama kami berada di departemen kardiologi atawa jantung.

Kepada kami, dokter muda yang unyu-unyu pun dokter N adalah sosok pendidik yang handal. Beliau selalu mengajari kami segala sesuatu, tidak marah ditanya apapun, bahkan mau membalas SMS jika kami ada perlu. Saya terkadang teringat sosok guru konseling waktu SMA jika melihat dokter N, jarang ada dosen yang bisa begitu mendidik mahasiswanya.

Dokter N sangat suka bercerita, dia akan bercerita tentang masa sewaktu dia kuliah PPDS, tentang kelemahannya dalam berbahasa, tentang sahabat nabi, tentang banyak hal. Dalam setiap ceritanya dia akan menyelipkan hikmah tentang kesabaran, tentang kebaikan, tentang pengabdian kepada Allah, dan hal-hal lain yang menjadikan kami meleleh. Bahkan saya memergoki beberapa teman kami dengan mata memerah karena terharu setelah sesi bimbingan bersama dokter N.

Satu nasihat dokter N, yang saya sangat ingat, adalah nasihatnya untuk bersabar dalam penyakit. Saat salah satu dari kami mengungkapkan kecemasan akan diagnosis sebuah penyakit yang diterimanya, dokter N malahan tersenyum lebar dan menjawab,

“Seharusnya kamu bersyukur Dek, bilang Alhamdulillah. Karena penyakit itu, adalah kunci surga untuk kamu, jika kamu ikhlas menjalaninya…”

Dan kami semua terdiam. Konsep yang sederhana, tapi terlupakan dalam hari-hari suram dan melelahkan di balik dinding rumah sakit, dan kini dokter N mengingatkan kami kembali.

Demikian, demikian.
Saya sudah harus mengakhiri postingan yang sangat panjang ini.
Tapi kami semua, yang saat itu berada bersama dokter N, dan akan segera keluar dari departemen kardiologi tahu, bahwa guru kami yang satu itu, telah membuat kami kembali menemukan makna menjadi seorang dokter. Dan kami semua menyayangi guru kami, dokter N, serta mendoakan penjagaan Allah atasnya. Selalu, selamanya.

Sumber asli http://adeoktiviyari.blogdetik.com/2012/12/02/satu-episode-dokter-n/

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s