OUTLOOK FOR THE FUTURE: Revisi Cerita Lama “Indonesia Sehat 2010”

Pada pertengahan September 1998, paradigma baru kesehatan diperkenalkan. Pengembangan sektor kesehatan dengan cara promosi kesehatan serta pencegahan lebih difokuskan dibandingkan pelayanan kuratif dan rehabilitatif. Melalui diskusi Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, pernyataan visi dan misi baru dari Kementrian untuk pengembangan Kesehatan Nasional telah dirumuskan. Sebuah konsensus pada visi baru ini, direfleksikan menjadi motto “Indonesia sehat 2010”. Batas waktu 2010 dianggap sebagai waktu yang tepat dalam merealisasikan program ini. Dengan rentang waktu yang menantang dan inspirasional, namun tetap dapat dicapai.

Indonesia Sehat 2010

Menurut rumusan pemerintah, visi Indonesia Sehat 2010 dijabarkan sebagai berikut : Dalam Indonesia sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.

Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Selanjutnya kemampuan masyarakat yang diharapkan pada masa depan adalah yang mampu menjangkau pelayang kesehatan yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi, maupun non ekonomi. Pelayanan kesehatan bermutu yang dimaksudkan disini adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan pemakai jasa pelayanan serta yang diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika pelayanan profesi. Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku sehat serta meningkatnya kemampuan masyarakat tersebut diatas, derajat kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal.”

Beberapa indikator yang ditetapkan antara lain:

  1. Program lingkungan sehat, perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat
  2. Program upaya kesehatan
  3. Program perbaikan gizi masyarakat
  4. Program sumber daya kesehatan
  5. Program obat, makanan, dan bahan berbahaya
  6. Program manajemen dan pembangunan kesehatan

Pencapaian

Indikator Pencapaian Sasaran
2004 2005 2006 2007 2009
IMR ( Per 1000 LH ) 35 32 30,8 26,9 26
MMR ( Per 1000 LH ) 307 262 253 228 226
GIZI KURANG BALITA 25,8 24,7 23,6 18,4 *) 20
UHH ( TAHUN ) 66,2 67,8 69,4 70,5 70,6

*) = Riskesdas 2007

Dari tabel tersebut baik dari indikator IMR, MMR, maupun gizi kurang balita menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Namun, jika kita lihat dalam skala mikro, masih banyak daerah di Indonesia yang menunjukkan angka pencapaian status kesehatan yang dinilai buruk.

Menurut paparan Dirjen Rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) 2009, untuk AKB/ IMR 2007 (rata-rata nasional 26,9) masih sangat tinggi di dua daerah yakni NTB (72) dan Sulbar (74). Di samping itu, untuk gizi buruk/ gizi kurang tahun 2007 (rata-rata nasional 18,4) masih sangat tinggi di NTT (33,6).

Tabel Pencapaian Sasaran dan Disparsitas menurut Propinsi tahun 2007

Indikator Rata – rata Nasional Terendah Tertinggi
AKB 26,9 DIY (19); JATENG (28) NTB (72); SULBAR (74)
AKI 228
TFR 2,6 DIY (1,8) NTT (4,2)
GIZI KURANG 18,4 DIY (10,9) NTT (33,6)

Pencapaian Indonesia Sehat 2010 ternyata tidak maksimal, masih banyak program yang belum terlaksana dengan baik. Apalagi sumber daya dan dana yang terbatas serta belum menerapkan prinsip adil dan merata dalam aplikasinya menjadi hambatan yang paling besar dalam melaksanakan suatu program.

Jika dilihat dari sumber daya yang ada, jumlah tenaga kesehatan yang diperlukan, baik yang bergerak di bidang promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif masih banyak yang terpusat di kota-kota besar saja. Meskipun jumlah tenaga kesehatan sudah mencukupi, namun persebarannya kurang merata.

Menurut penuturan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam sebuah surat kabar nasional , “Penyebaran tenaga-tenaga kesehatan local harus dioptimalkan, khususnya ke daerah-daerah terpencil. Optimalisasi tenaga kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan kualitas tenaga kesehatan, terutama di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).”

Di sisi lain, dana yang dianggarkan pemerintah untuk kesehatan tak lebih dari 2,3% dari APBN per tahun. Mengalami sedikit peningkatan di tahun 2009 sebesar 2,8% dari total APBN, meskipun begitu dana tersebut masih jauh dari anggaran yang disarankan oleh WHO yakni sebesar 5% dari total APBN. Sehingga diperlukan partisipasi yang lebih besar dari masing-masing pemerintah daerah. Di samping itu, efektifitas dana kesehatan sangat penting untuk diperhatikan. Dana kesehatan yang tidak begitu besar jumlahnya, penggunaannya haruslah lebih berorientasi pada upaya promotif dan preventif, bukan upaya kuratif yang terkesan seperti membuang uang negara karena dari awal kita sudah sepakat bahwa kesehatan adalah asset. Sebuah asset harus dijaga agar dapat bermanfaat, bukannya dibiarkan dan nantinya kita justru harus menanggung kerugian, sedangkan asset tersebut pasti sudah berkurang mutunya.

Prospek kedepan

PEMBANGUNAN KESEHATAN BERGESER DARI MEDICAL CARE KE HEALTH CARE

Hal yang mendasar dalam pembangunan kesehatan saat ini adalah pergeseran dari pelayanan medis (medical care) ke pemeliharaan kesehatan (health care) sehingga setiap upaya penanggulangan masalah kesehatan lebih menonjolkan aspek peningkatan (promotive) dan pencegahan (preventive); pergeseran dari pemerintah ke swasta dan penekanan pada aspek mutu pelayanan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS pada Peringatan HUT ke- 51 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, Kamis 30 Desember 2010.

”Tantangan dan permasalahan pembangunan kesehatan kedepan bertambah berat, kompleks, bahkan terkadang tidak terduga. Beberapa isu pelayanan kesehatan yang terangkat dan telah membentuk pola pikir masyarakat adalah fasilitas pelayanan kesehatan rujukan yang belum memenuhi standar, pelayanan yang kurang profesional, belum optimalnya penerapan standar mutu pelayanan kesehatan rujukan, dan pembiayaan kesehatan yang sulit dijangkau”, ujar Menkes.

Sedangkan, tantangan pelayanan kesehatan kedepan adalah globalisasi (pelayanan kesehatan yang melampaui batas negara), teknologi kesehatan yang semakin maju, dan kompetisi dari tenaga kesehatan asing. Untuk mengatasi hal itu harus diupayakan melalui pemenuhan kualitas dan kuantitas SDM Rumah Sakit yang memadai.

Persepsi yang sama dan aplikasi yang inovatif dari setiap pelaku kesehatan akan menentukan arah program kesehatan Indonesia kedepan. Tidak mengulang lagi cerita lama, melainkan mengevaluasi setiap kesalahan yang telah terjadi kemudian mengupgrade kapasitas personal. Sehingga revisi program Indonesia Sehat selanjutnya bisa terwujud.

Related link:

http://www.searo.who.int/EN/Section313/Section1520_6828.htm

http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/pdf/Peraturan/kmk%20indikator%202010%201202-2001.pdf

http://kesehatan.kompas.com/read/2009/10/31/08021745/Menkes.Tenaga.Kesehatan.Lokal.Dioptimalkan.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1364-pembangunan-kesehatan-bergeser-dari-medical-care-ke-health-care.html

Hal yang mendasar dalam pembangunan kesehatan saat ini adalah pergeseran dari pelayanan medis (medical care) ke pemeliharaan kesehatan (health care) sehingga setiap upaya penanggulangan masalah kesehatan lebih menonjolkan aspek peningkatan (promotive) dan pencegahan (preventive); pergeseran dari pemerintah ke swasta dan penekanan pada aspek mutu pelayanan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS pada Peringatan HUT ke- 51 Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, Kamis 30 Desember 2010. Dalam acara tersebut juga hadir Kepala Pusat Komunikasi Publik, drg. Tritarayati, SH.

”Tantangan dan permasalahan pembangunan kesehatan kedepan bertambah berat, kompleks, bahkan terkadang tidak terduga. Beberapa isu pelayanan kesehatan yang terangkat dan telah membentuk pola pikir masyarakat adalah fasilitas pelayanan kesehatan rujukan yang belum memenuhi standar, pelayanan yang kurang profesional, belum optimalnya penerapan standar mutu pelayanan kesehatan rujukan, dan pembiayaan kesehatan yang sulit dijangkau”, ujar Menkes.

Sedangkan, tantangan pelayanan kesehatan kedepan adalah globalisasi (pelayanan kesehatan yang melampaui batas negara), teknologi kesehatan yang semakin maju, dan kompetisi dari tenaga kesehatan asing. Untuk mengatasi hal itu harus diupayakan melalui pemenuhan kualitas dan kuantitas SDM Rumah Sakit yang memadai.

2 responses to “OUTLOOK FOR THE FUTURE: Revisi Cerita Lama “Indonesia Sehat 2010”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s